Cuaca
pada siang hari sekitar pukul 10.45 begitu menyengat kulitku yang sedang berdiri di depan pagar
rumah karena menunggu Sahabat-sahabat ku yang akan datang membawa perlengkapan
untuk mendaki ke Ranu Kumbolo, Gunung Semeru, yang terletak di Lumajang daerah
Jawa Timur. Kebetulan sebagian dari mereka ada yang belum mengetahui tempat
tinggalku di Malang sehingga aku yang
harus menunggu mereka di depan rumah.
“Agkkhh! Mereka kok lama banget sih, udah
pegel berdiri nih. Duh.. duhh” Ucap Mitha dalam hati.
Terlihat dari kejauhan ada kedua pemuda
yang sedang mengendarai sepeda motor yang memasuki gang kecil menuju ke arahku
dan ternyata itu adalah kedua sahabat ku.
“Ehh, kok kalian lama banget sih” ucap ku
“Iya nih, kan perlengkapan yang nanti kita
bawa itu banyak banget, udah gak usah bawel, ini barang-barangnya di jaga dulu
yah karena kita akan balik lagi buat mengambil barang yang masih tersisa di
tempat yoyok” kata Satrio
“Oke deh, jangan lama-lama yah buruan”
Sambil menunggu mereka di depan teras
rumah, sekitar 11.30, aku melihat langit tibat-tiba gelap dan sepertinya akan
turun hujan yang sangat deras sembari suara petir seperti menyambar sesuatu
yang membuat telingaku tiba-tiba berdengung, aku begitu takut. Namun tak lama
kemudian akhirnya mereka semua datang satu-persatu. kebetulan jumlah kami ada
12 orang, 3 perempuan dan 9 laki-laki. Ada Satrio, Yoyok, Bayu, Abi, Agung,
Eko, Nina, Nila, Aji, Titan, Alvis dan Mitha. Lalu kami semua sibuk memasukkan
perlengkapan mendaki ke dalam tas Carrier kami seperti sleeping bag, hand lamp,
makanan ringan, Jas hujan dan yang terpenting yaitu obat-obat pribadi kami karena itu semua
adalah perlengkapan individu yang tidak boleh terlupakan.
“Udah beres semua yah teman-teman, apa
masih ada yang ketinggalan?” kata yoyok
“Iya sudah semua nih” ucap Abi
Dengan kesibukan masing-masing namun
dengan perasaan yang bertanya-tanya karena ada 3 orang yang tidak aku kenal bernama
Alvis, Aji dan Titan karena mereka bertiga adalah teman dari salah satu
Sahabatku Abi, Kebetulan mereka adalah teman Abi di Kota Lamongan yang ikut
serta mendaki ke Ranu Kumbolo.
“Hay, aku Alvis” Sambil menyodorkan
tangannya dengan wajah yang sangat ramah.
“Oh, eehmm, iya aku Mitha” Ucapku dengan
nada Gugup sambil tersenyum tipis dan
wajahnya berubah menjadi merah muda.
“Wah, aku kenapa yah kok tiba-tiba
jantungku berdetak sangat cepat seperti sedang memutari lapangan bola basket
selama 5 kali. Uuh sungguh apakah ini. Aah” ucapku dalam hati.
“Ayo-ayo sudah siap semua yah, sebelum
kita menuju perjalanan ke Ranupane ayo teman-teman semua mari kita berdoa
terlebih dahulu, menurut kepercayaan dan keyakinan masing-masing” kata Abi
“Peluk aku..” ucap Alvis
“ehm, emang gak apa-apa yah? Kita kan baru
kenal” kataku sambil tersenyum malu karena bingung.
“Aku dingin…”
Dalam perjalanan aku tidak langsung
memeluknya, aku hanya menaruh kedua tanganku di pinggangnya.
“Hmm, gini aja yah Alvis. Gak apa-apa kan”
ucapku
Namun tak ada Respon dari Alvis, dia hanya
diam. Entah dia marah aku tak tau karena pada saat itu kami sedang
berboncengan.
Setelah sampai di tempat yang di tuju Ranupane
kami semua beristirahat di Aula, menjelang malam pun tiba yoyok dan Agung mempersiapkan makanan buat
kami semua. mengapa cowok yang masak karena itu semua sudah menjadi kodrat para cowok
ketika sedang camping. Setelah itu kami semua langsung beristrihat dan
mempersiapkan fisik yang cukup kuat karena besok kami semua akan mendaki ke
Ranu Kumbolo
Terdengar
suara yang gemuruh, membangungakan tidurku yang sangat pulas, ternyata itu
suara Abi yang sedang membangunkan teman-teman.
“ehh,eeh.. bangun-bangun dan siap-siap”
kata Abi yang sedang membangunkanku
“Huaaam, iya-iyaa! Ini aku bangun kok”
Sambil mengusap-usap kedua mata, aku pun berdiri beranjak dari tempat yang ia tiduri menuju ke
kamar mandi yang telah tersedia di sekitar Aula Ranupane.
Suasana di pagi hari begitu dingin dengan
cuaca sangat cerah, terlihat burung-burung kecil yang sedang berterbangan di
sekitar Aula, burung-burung pun seperti ikut bernyanyi menyambut kedatangan
pagi yang cerah membuat pemandangan Alam di sekitar Ranupane begitu Indah.
Setelah menunggu begitu lama kemudian kami semua di panggil untuk brifing
terlebih dahulu sebelum melanjutkan perjalan ke Ranu Kumbolo. Sekitar pukul
12.30 kami semua berjalan dan di perkirakan kami akan menempuh perjalanan
sekitar 4-5 jam untuk sampai ke Ranu Kumbolo. Dalam perjaalanan Alvis selalu
berjalan di belakangku dengan penuh perhatian memberikan ku arah yang tak boleh
ku lewati dan di tengah perjalanan hujan mulai turun sangat deras, kami semua
langsung memakai mantel kami masing-masing pada saat itu aku terpleset.
“Aaahh…” aku berteriak karena terpleset,
untung saja Alvis cepat memegang tangan kiriku.
“Kan aku sudah bilang kamu hati-hati
Mitha”
“Iya Alvis, aku akan lebih berhati-hati
lagi”
“Aku capek nih Alvis” sambil mengatur
nafas yang sudah dari tadi ngos-ngosan
“yaudah kita istirahat di sini saja dulu
biar yang lain jalan duluan”
15 menit kemudian
“Gimana, Masih kuat gak?..” tanya Alvis
“Iya masih kok,” Ucapku
Terlihat
dari jauh pemandangan sekitar Ranu Kumbolo sudah kelihatan sangat jelas yang
begitu Indah, walaupun di sertai rintik-rintik hujan yang turun. Setelah sampai
aku, Nila dan Nina berteduh di rumah warga yang tinggal di sekitaran Ranu
Kumbolo dan para cowok-cowok sibuk memasang tenda. Malam pun tiba kami tenda
kami sudah jadi. Yoyok dan Agung memasak buat makan malam kami semua kecuali ke
tiga teman Abi Alvis,Aji dan Titan tidak ikut serta dalam makan malam kami
karena mereka memasang tenda yang tempatnya lumayan jauh dari tenda kami. Di
tenda pertama ada aku, Satrio, Agung dan Bayu. Karena aku tidak enak badan
karena kedinginan para cowok-cowok
menjaga ku sampai aku tidur, di tenda kedua ada Yoyok yang menjaga Nila
dan Nina dan di tenda terakhir ada Abi dan Eko. Lagi-lagi Hawa yang begitu
dingin membuat kakiku seperti membeku, tengah malam aku terbangun karena ingin
buang air kecil, aku menyuruh Agung untuk mengantarku. Setelah sampai di luar
dengan suasana yang begitu gelap gulita tiba-tiba saja aku tidak ingin buang
air kecil. Lalu kami pun kembali masuk ke tenda dan Agung melanjutkan tidurnya
kembali. Aku mengambil jaket dan
memakainya serta menutupi seluruh badanku dengan Sleeping bag agar hawa dingin
tidak begitu aku rasakan.
Keesokan
harinya dengan cuaca yang sangat cerah aku terbangun dan keluar dari tenda lalu
Yoyok mengasih aku teh hangat. Langsung saja aku meminumnya. Betapa nikmatnya
meminum teh di Alam terbuka sambil melihat pemandangan di sekitar begitu banyak
tenda-tenda milik pendaki lain serta pemandangan Danau yang berada di Ranu
Kumbolo airnya yang begitu jernih dan dapat di minum secara langsung. Karena
Danau itu tidak di perbolehkan untuk di
buat mandi oleh siapa pun. Tampak dari kejauhan Alvis berjalan menuju ke tenda
kami ia membawa makanan sebuah Nugget yang telah di goreng, setelah itu ia
mengajakku ke tempat tendanya, kemudian aku langsung saja ikut.
“Aku mau kembali nih, kamu mau ikut gak?”
ajaknya
“Hmm, hehehee.. iya deh ayoo” jawabku
sambil tertawa kecil
Lalu aku dan Alvis berjalan menuju ke
tempat ia mendirikan tenda bersama kedua temannya.lalu Kami pun ngobrol dan
bercanda tawa. Kemudian aku pamit dan kembali ke tempat tenda
teman-temanku.Serelah itu kami semua pun makan masakan yang telah di masak oleh
Yoyok, sekitar 7 kertas minyak di gelar di atas matras kemudian nasi di
tuangkan lalu lauknya mie dan sosil yang telah di goreng. Kami semua makan
Bersama-sama. Betapa nikmat yang aku rasakan Bersama teman-teman.
Sekitar jam 10.30 teman-teman yang akan berangkat mendaki untuk mencapai
puncak Gunung Semeru bersiap-siap kembali di tenda yang tersisa hanya aku,
Satrio dan Bayu sebab pada saat itu lagi tidak enak badan dan mereka berdua
menemaniku di Ranu Kumbolo saja. Alvis dan kedua temannya pun juga ikut.
“Kamu gak apa-apa kan di sini?” tanya
Alvis
“Iya aku gak apa-apa kok, sebenarnya aku
pengen ikut juga tapi yah kondisinya lagi kayak gini, tap gak apa-apa kok kamu
pergi aja.” jawabku
“Yaudah, kamu hati-hati yah, lagian di
sini ada Satrio dan Bayu, kamu jangan melamun”
“iya-iya tapi, nanti aku bakalan kangen
sama kamu dong?”
“Aku kan gak lama besok kita akan ketemu
lagi, dan aku bakalan temenin kamu kok, tenang aja yah” sambil tersenyum
“Iya deh, kamu janji yah” ucapku
Setelah kepergian mereka semua, kami
bertiga pun memberes-bereskan tenda serta barang-barang yang juga di bantu oleh
pendaki lain aku tidak sempat berkenalan jadi aku tidak tahu namanya karena ia
adalah teman Abi, namun sering di panggil Ambon tapi itu bukan nama Asli hanya
sebuah panggilan-panggilan yang di berikan oleh teman-temanya. lemudian kami
bertiga pindah tempat bersama si Ambon kebetulan Abi mengenal mereka jadi ia
menitipkan aku agar bisa di jaga juga oleh mereka. Sesudah beres-beres tenda
pun sudah berada dekat tenda Ambon dan ke enam temannya yang lain. Setelah itu
aku pun beristirahat dan di buatkan chocolatos oleh Bayu. Aku meminumnya
setelah itu aku tidur. Kemudian di malam hari sambil menunggu teman-teman
kembali ke Ranu Kumbolo. Aku, Satrio, Bayu dan Ambon, bercerita di dalam tenda
tempat tidur kami. kami bercanda dan tertawa Bersama-sama.
Malam semakin larut, rasa ngantuk pun menyelimuti ku, kemudian aku
pun tertidur di dalam tenda Satrio dan
Bayu di luar menjagaku. Baru saja aku ingin larut dalam tidur ku terdengar suara
Satrio berteriak sangat kencang memangil-manggil nama Yoyok serentak aku pun
langsung terbangun dan terduduk kemudian keluar dari tenda dan bertanya apa
yang terjadi lalu Bayu menjawab bahwa teman-teman sudah sampai di Ranu Kumbolo.
Aku pun langsung segera menemui Alvis tapi dia sibuk membantu kedua
temannya memasang tenda aku hanya
melihat lihatnya sebentar kemudian aku pergi ke tenda di mana ada Nila, dan
Nina. Pada saat itu mereka pun bercerita tentang pengalaman mereka yang sudah
mendaki ke puncak Gunung Semeru yang tertinggi di pulau Jawa. Yoyok yang lagi
masak tiba-tiba melihatku yang dari tadi hanya diam.
“vis.. Alvis, kesini dulu” Yoyok berteriak
memanggil Alvis yang sedang berada di tendanya.
“Iya, kenapa?”
“Sini-sini kamu masuk dan duduk di dekat
Mitha”
Kemudian Alvis duduk tepat di belakangku,
Aku yang tadinya diam menjadi senyum-senyum sendiri karena telah bertemu dengan
Alvis. Lalu di dalam tenda kami pun mulai mengobrol lagi. Aku mengambil
Handphone kemudian menulis di Note.
Kita keluar dari tenda sebentar yuk, aku pengen
ngomong.
“Ayo, kamu keluar duluan” ucap Alvis
“Kamu mau ke mana?” tanya Yoyok
“Gak kok, aku pengen keluar sebentar aja”
Jawabku
Aku dan Alvis sudah berada di luar tenda,
Hawa dingin yang menyelimuti tubuh kami membuat kami menjadi bergetar karna
menggigil kedinginan.
“Aku kedinginan banget” kata Alvis
“Hmm, kamu dingin yah, trus gimana dong.
Apa kita masuk lagi ke tenda?” tanyaku
“Gak di sini aja, tolong peluk aku”
Aku pun lansung terdiam dan tak bersuara lagi. Tiba-tiba
Alvis menarik tanganku kemudian memelukku. Aku hanya bisa tersenyum dalam hati
karena aku benar-benar nyaman pada saat ia di sampingku.
“Tenda itu ada yang tempati gak?” ucap Alvis sambil
menunjuk ke arah tenda
Tangan Alvis menunjuk ke arah tenda kosong yang hanya
di huni oleh tas-tas punya teman-teman yang lainnya.
“Ayo kita ke sana…” Ajaknya
“tapi!”
“Udah gak apa-apa yuk”
Alvis menggandeng lenganku dan kemudian membawa aku ke
tenda yang kosong itu, kami berdua masuk dan duduk di dalam tenda.
“Gak apa-apa nih di sini?” Ucap ku dengan suara yang
pelan
“Iya gak apa-apa, jangan berisik nanti di dengar
teman-teman yang lain” kata Alvis
“Hmm, iya-iya”
Kemudian aku dan Alvis terdiam sebentar, tiba-tiba
Alvis langsung memelukku dari belakang dan mencium bibirku. Aku pun tidak bisa
menolak apa yang Alvis lakukan karena aku larut dalam suasana itu. Aku dan
Alvis berciuman dengan durasi yang hanya sebentar, karena pada saat itu aku
lansung cepat menghindar tapi ia terus menarik tanganku dan ia merasa kalau aku
tidak mengiginkannya lagi, kami duduk berhadapan dan ia hanya memelukku begitu
erat.
“Kamu sudah makan?” tanya Alvis
“Belum”
“Aku juga belum, ayo makan yuk”
Terdengar suara dari luar tenda
“Alvis.. vis.. Alvis, ayo makan ini” Kata Titan dengan
suara yang keras
Kemudian Alvis pun keluar dari tenda dan meninggalkan
aku di dalam.
“Kamu tunggu di sini sebentar ya, aku ke sana dulu”
kata Alvis
“Iya, tapi jangan lama yah” ucapku
“Ayo kita kesana” ajak Alvis
“Hmm…” Aku hanya mengangguk dan tersenyum tipis.
Aku dan Alvis kembali ke tenda yang di mana ada Yoyok,
Nila dan Nina.
“Kamu dari mana?” tanya Yoyok
“Gak kok, dari depan aja” ucapku
“Iya udah, duduk di situ dan ayo makan dulu” ajak
Yoyok
“Vis, suapin Mitha tuh” kata Yoyok
Kemudian Alvis pun menyuapi aku berkali-kali sampai
aku merasa udah kekenyangan. Setelah itu kami kembali ngobrol lagi. Alvis yang
dari tadi kembali ngobrol sama Nila dan
juga Nina. Aku pun hanya terdiam dan begitu heran sama diriku sendiri padahal aku baru beberapa hari kenal
sama Alvis tapi sudah merasa nyaman saat bersama ia. Aku suka ketika Alvis
tersenyum kepadaku dan membuat ku seperti melayang-layang di atas awan. Semua
ucapannya yang terdengar di telingaku membuatm aku selalu ingin tersenyum
ketika ia sedang berbicara bersama ku atau bersama teman-teman yang lain.
“Aku ngantuk nih” ucap Alvis
“Yudah kamu balik ke tendamu deh kalo ngantuk” kataku
sambil mendorong bahunya karena aku duduk tepat di belakangnya
“Yaudah, aku balik yah, Kamu juga langsung tidur!”
“iya, daaahhhh…’ jawabku
Pada Pagi hari, setelah bangun kami semua beres-beres
mengemasi barang-barang, ada yang sibuk memasak dan ada juga yang sibuk
melipat-lipat tenda. Ketika Yoyok dan teman-teman yang lainnya selesai memasak.
Kami bersiap-siap, mengatur kembali sisa-sisa barang yang akan di bawa, tanpa
terkeculi yaitu sampah yang memang harus di bawa kembali ke Ranupane, sebab
sudah ada larangan dari warga desa tersebut bahwa sampah-sampah organic tidak
di perbolehkan di buang sembarangan apalagi di dalam hutan karena akan
mencemarkan ekosistem dan kami semua menghargai itu dan menyayangi tempat yang
sangat indah. Setelah itu kami semua berjalan untuk kembali ke tempat awal
yaitu Desa Ranupane. Di dalam perjalanan lagi-lagi aku hanya berjalan bersama
Alvis karena sebagian teman-teman yang lain sudah duluan. Di tengah perjalanan
aku dan Alvis berfoto-foto secara bergantian. Kemudian melanjutkan perjalan dan
bertemu Bayu dan Agung. Lalu kami melanjutkan perjalana Bersama-sama dan juga
beristirahat.
Menempuh perjalanan sekitar 4 jam saja, karena
perjalanan untuk kembali ke Ranupane itu kebanyankan jalanannya menurun jadi
aku tidak terlalu Lelah dalam perjalanan, tidak seperti pada saat perjalanan ke
Ranu kumbolo. Syukur hari ini cuaca sangat cerah. Akhirnya kami sampai juga di Aula.
“Aku laper nih, makan bakso yuk?” ajak Alvis
“Yah, kan baru nyampek. Istirahat dulu bentar” jawabku
20 menit kemudian
“Ayo deh pesen” ajakku
Berdiri menuju kea rah tukang bakso dan kemudian
memesan dua Bakso. Setelah selesai makan kami semua pun bersiap-siap untuk
kembali ke Malang dan pulang menuju rumah kembali. Alvis adalah teman Abi jadi
aku mengatar ia ke rumah Abi.
Dalam perjalanan..
“Kapan kita akan bertermu kembali” tanyaku
“Yah, kapan aja kalau ada libur..lagian loh deket,
Surabaya-Malangkan Cuma 3 jam saja dan juga aku udah follow Instagram kamu”
Kata Alvis
Aku hanya
mengangguk dan membulatkan mulutku membentuk huruf O
Aku dan Alvis tiba di rumah Abi..
“Makasih yah, sudah mengantarkan aku ke rumah Abi”
ucap Alvis
“Iya sama-sama, aku pulang dulu sampai ketemu di lain
waktu” ucapku
“Iya, kamu hati-hati di jalan yah” kata Alvis
Setelah aku beranjak pergi dari hadapannya. Aku pun
pulang dengan raut muka yang sangat sedih dan bertanya-tanya dalam hati kapan
aku akan bertemu ia kembali, walaupun ini hanya sebatas pertemuan singkat. Aku
barharap akan ada pertemuan-pertemuan selanjutnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar