Pada pagi hari di sebuah rumah yang begitu mewah
seorang mempelai pria yang bernama Rama beserta keluarga datang kemudian di
sambut dengan baik oleh keluarga mempelai perempuan yang akan menjadi menantu
dari keluarga perempuan itu.
Di dalam kamar pengantin Lastri duduk termenung karena
ia tidak mengiginkan pernikahan ini berlangsung bersama orang yang tidak ia
ketahui, sebab ia di jodohkan oleh pamannya, mengingat paman lastri yang sudah
lanjut usia. Maka paman Lastri mengiginkan kebahagian untuk Lastri.
“Mbak ada seseorang yang menitipkan kado ini untuk
mbak. Permisi dulu ya mbak.” Ucap Widya
Dengan perlahan-lahan Lastri membuka bagian atas kado
tersebut yang di dalamnya berisikan surat-surat yang ternyata dari kekasihnya.
Lastri aku tau aku sudah bukan kekasihmu
lagi
Karena itu aku kirim surat ini
beserta surat-suratmu padaku dulu
Agar kita menyadari bahwa kita tidak
saling memililki lagi
Hari ini segala mimpi indah kita
sudah berakhir
Kita hanya bisa menyimpannya menjadi
kenangan yang tidak terlupakan
Lastri aku tidak akan menyalahkanmu
dan aku harap kamu tidak menyalahkan pamanmu
Yang memaksamu menikah Bersama
lelaki pilihannya.
Memang terasa perih namun aku akan
selalu berdoa untuk kebahagianmu.
Sambil duduk di kursi
Lastri membaca surat itu sambil menangis tersedu-seduh kemudian memeluk
suratnya dan memanggil nama Angga lalu berkata maafkan aku.
Kemudian Lastri kabur dari pernikahannya menuju rumah
Angga karena ia sangat mencintai Angga. Tiba di depan pintu rumah Angga dan ingin
mengetuk pintu tangan lastri tertahan sebab ia mendengar suara Angga lagi
berbicara sama seorang wanita di dalam rumah itu.
“Sadra apa-apaan ini”
“tidak” menarik
botol minuman yang di oleh angga
“Biarkan aku minum sandar!”
“Tidak angga, kalau alasannya karena Lastri aku tidak
mengizinkan kamu minum”
“Hahaha Sadra, sadra, aku memang kecewa karena gagal
mendapatkan Lastri, tujuanku mendapatkan lastri hanya untuk menguasai harta
kekayaan pamannya”
“Betul kamu tidak pernah mencintai lastri”
“iya betul sayang aku hanya mencintaimu, dan cintaku
hanya untuk kau seorang”
Kemudian Sandra memeluk angga dengan begitu mesrahnya sambil ketawa bersama,
akan tetapi suasana tersebut tiba-tiba lansung hening, begitu lastri membuka
pintu rumah sangat keras dan membuat
angga dan Sandra kaget serta mata mereka langsung terplongo melihat lastri yang
tengah berdiri di depan pintu.
“Lastri”
“Angga hari ini aku lari dari pernikahan aku karena
cintaku padamu, karena cinta kita angga. Tapi apa yang ku dapatkan. Semua pengorbanan
aku”
“Tunggu lastri tunggu biar aku jelaskan” rangga
menghamipiri lastri
“Cukup angga, cukup. Aku sudah dengar semuanya Angga.
Sudah lama aku berdiri di belakang pintu jadi aku tau semuanya, ternyata
laki-laki yang aku cintai adalah seorang penipu yang mengiginkan harta pamanku”.
Lastri menangis tersedu-sedu
“Lastri biar aku jelaskan” kata angga
“Gak, kamu bajingan, kamu penipu kamu sudah bohongi
aku” Lastri mendorong angga sampai terjatuh di sofa lalu memukulnya..
Kemudian dengan rasa kecewa lastri berlari
meninggalkan rumah tersebut sambil menangis.
Tak lama kemudian, lastri sampai di rumah secara tidak
sengaja ia mendengar percakapan dari salah
seorang tamu undangan yang tengah membantu membereskan kursi-kursi yang akan di
angkut oleh mobil
“Aghh, kasihan pak Harjo di permalukan sama
keponakannya sendiri, kalau aku punya keponakan seperti itu. sudah ku gantung
dia” kata Seorang tamu undangan
Lastri berlari kearah rumahnya kemudian menaiki tangga
rumah dan memanggil pamannya, setelah sampai di anak tangga terakhir lastri
melihat pamannya lagi duduk di kursi yang mengarah ke jendela dan di depan
tempat paman duduk itu terpajang sebuah foto yang adalah istri paman. Lastri
berjalan perlahan-lahan menghampiri pamannya.
“Maafkan saya
paman, saya menyesal paman. Lastri tau, Lastri sudah mengecewakan paman.
Hukumlah lastri paman walaupun lastri
tau hukuman itu tak akan bisa menghapus kekecewaan paman gak akan bisa
menghilangkan rasa malu paman”
“Maafkan lastri paman”
Lastri menghamipi pamannya dan ternyata paman lastri
sudah meninggal di kursi yang ia dudukki. Dengan suara yang keras Lastri
memanggil-manggil pamannya berulang-ulang kali seketika itu deraian air
mata lastri mengalir membasahi pipinya.
Semenjak kejadian itu lastri sangat terpukul kini
hidupnya hanya sebatang kara semenjak kedua orang tuanya meninggal ia di
titipkan kepada pamannya, tetapi paman yang begitu menyayangi lastri telah
pergi juga.
1 tahun pun berlalu.
Lastri pergi ke rumah salah satu sahabatnya. Ia
mengetuk pintu rumah itu lalu menunggu di depan rumah, tidak lama kemudian
pintu rumah tersebut di buka.
“Lastri’ ucap maya
‘ehm. maya kamu apa kabar?” tanya lastri
“Iya baik,ayo silakan masuk’’ ajak maya
Terdengar tangisan bayi “OWEKOWEK” Lastri menuju
kearah itu.
“Maya kok kamu tidak pernah bilang kalau sudah punya
bayi”
“Maafkan aku las, sebenarnya aku sudah menikah 3 tahun
lalu, tapi karena keluarga suami ku tidak setuju terpaksa kami kawin lari
lastri. Itu sebabnya aku tidak bisa mengundang siapa-siapa”
Maya menangis sambil berjalan menuju sofa kemudian ia
duduk di situ dan menutup mukanya dengan kedua telapak tangannya lalu menangis
tersedu-sedu.
“Maya kamu kenapa nangis?” kata lastri
“5 bulan yang lalu saat bayi belum genap berusia 1
bulan mas Aryo terkena kanker ganas dan telah merenggut nyawanya dan hari ini
aku harus ke makam suamiku untuk menebur bunga dan sekaligus menemui mertuaku”
“ya udah kamu yang sabar ya Maya”
“Las, kamu gak tau kan mau kemana, kamu ikut aku aja
ya bertemu mertuaku dan kemakam suamiku’’
“Aduh may, kayaknya aku gak bisa ikut deh. Aku takut’’
“Kamu jangan khawatir mertuaku belum pernah melihat
aku, melihat fotokupun juga belum nanti aku bilang kalua kamu adikku”
Kemudian maya dan lastri di antar supir pribadi Maya
menuju rumah mertua. Dalam perjalanan di dalam mobil itu Maya melihat Lastri
yang dari tadi sedang melamun dan Maya pun bertanya kepada lastri apa yang
tengah ia lamunkan, ternyata lastri terpikirkan dengan kejadian yang menimpanya
1 tahun lalu dan membuat perkawinannya gagal. Pada saat mereka berdua lagi berbincang-bincang
dari arah berlawanan terlihat mobil truk yang sangat laju sangat kencang
sehingga mobil yang di tumpangi maya dan lastri tidak bisa menghindarinya lalu
supirpun memutar setir mobil kearah kanan dan di depan tersebut ada sebuah pohon
tanpa bisa menghindari lagi kemudian mobil menabrak pohon tersebut. Supir tewas
di tempat kejadian dengan kepala terbentur kaca depan mobil, Dengan nafas yang
terengah-engah maya berkata kepada Lastri.
“Kau harus menjadi ibunya’’ kata maya dengan keadaan
yang sudah sekarat ditempat kejadian itu. Darah yang keluar begitu banyak dari badan
Maya.
“aku titipkan
Bayu kepadamu, dia sudah tidak punya siapa-siapa lagi. Bawa dia ke rumah
neneknya dan kakeknya dan ke makam ayahnya, kau harus berjanji padaku kan
menjadi ibunya Bayu, kau harus merawatnya. Janji lastri’’ setelah mengucapkan
itu mayapun meniggal.
Keesokan harinya Lastri dan bayi Maya yang ia namakan Bayu
pergi menuju ke mertua maya di
perjalanan ternyata mobil yang di tumpangi maya salah jalan, supir yang membawa
mobil itu sengaja memutar balik arah. Lastripun marah meminta supir segera
memutar balik arah akan tetapi mobil itu terus melaju. Ternyata mobil yang di
sewa lastri adalah punya komplotan pencuri. Dalam perjalanan supir itu berhenti
tiba-tiba di tengah jalan yang sangat sepi mungkin hanya beberapa orang saja
yang melewati jalan itu. lalu datanglah tiga orang yang adalah anak buah dari pencuri
itu lalu memaksa lastri segera memberikan semua uang yang dia punya, Lastripun
teriak mengatakan tidak mau, pencuri tersebut memaksa. Sehingga ada seorang
pengandara yang lagi melewati jalan tersebut berhenti lalu berjalan menuju
mobil pencuri itu. Kemudian terjadilah adu mulut antara salah satu pencuri yang
mengatakan kepada pemuda itu jangan mencampuri urusannya. Kemudian terjadilah
perkelahian antara pencuri dan pemuda itu. Beberapa selang waktu kemudian ke
empat pencuri itu mengaku kalah dan pergi. Kemudian pemuda tersebut menghampiri
lastri yang sedang berdiri di samping mobil dan berkenalan sama lastri. Pemuda
itu mengatakan bahwa ia bernama Rama. Lastripun tidak mengatakan nama
sebenarnyanya, melainkan ia berpura-pura sebagai Maya sahabatnya yang sudah meninggal dan ibu
dari bayi yang di bawa oleh lastri.
Setelah itu lastri pergi ke rumah mertua Maya,
sesampainya di rumah itu lastri masuk ke dalam rumah yang sedang terbuka lebar.
“Eh kamu siapa?” Pak suryo Ayah Aryo bertanya dengan
tampak binggung karena ia melihat wanita tersebut menggendong seorang bayi.
“Saya Maya, istrinya mas Aryo” ucap lastri
“Apa? Istri Aryo. Lalu ini siapa?” Ayah Aryo menunjuk
ke arah bayi yang di gendong oleh lastri
“ini cucu bapak, anaknya mas Aryo’’ kata lastri yang
berpura-pura sebagai Maya.
Suara yang sangat keras Pak Suryo memanggil istrinya
dengan sebutan Ibu.
“Buk,buk, buk! Cepat kesini”
“Iya, ada apa pak. Kenapa teriak-teriak”
Ibu Aryo yang berjalan menuruni tangga rumahnya dan
langsung menghamipiri mereka.
“Ayo sini buk,lihat cucu kita dan ini Maya istrinya
Aryo, kalau ibu bisa tebak ini siapa. Hm. Bayu”
“Bayu? Bayu cucuku ini.” Ucap ibu Aryo dengan sangat
senang
Ayah Aryo menggendong cucunya dengan sangat gembira.
“Akhirnya kamu datang juga mantuku” kata ibu Aryo
sembari memeluk Lastri yang dari awal berpura-pura sebagai Maya.
Kemudian Lastri di antar ke kamar Aryo untuk
beristirahat.
Keesokan hari.
Pada pagi yang sangat cerah Keluarga Aryo tersebut
pergi ke makam Aryo suami Maya untuk menabur bunga. kebetulan Rama adalah
saudara dari Ayah Aryo sehingga ia juga datang kepemakaman itu.
Pada siang harinya Rama datang kerumah pakdenya itu
adalah panggilan buat Ayah Aryo, Rama berniat mengajak pakde dan budenya
menghadiri acara pesta ulang tahun yang akan ia buat besok malam akan tetapi
pakdenya tidak bisa sebab ada urusan mendadak. Kemudian Pak Suryo menyuruh Maya
mewakilinya untuk datang ke pesta ulang tahun Rama.
Keesokan harinya. pada malam hari di rumah yang sangat
mewah Rama menyelenggarakan acara pesta yang sangat meriah itu juga di hadiri
oleh teman-temannya yang begitu banyak. Pada saat pemotongan kue Ulang tahun
yang pertama Rama menegok ke kanan dan ke kiri sambil melihat-lihat. Beberapa
saat kemudian Maya datang, Rama pun berjalan menuju ke arah Maya dan mengasih
kue potongan pertama itu untuk Maya.
Kedekatan Rama dan Maya terjalin sangat baik. Sehingga
Rama pun berani megajak Maya berjalan-jalan di sebuah taman bunga. Pada saat
asik berjalan-jalan sambil mengobrol ada seorang wanita dari kejauhan yang
berjalan dari arah berlawanan Rama dan Maya itu memanggil nama Lastri dengan
begitu kaget Maya pun berbalik badan kemudian lari dari tempat tersebut Rama
pun ikut berlari mengejar Maya.
“Maya tunggu Maya. Sebenarnya apa yang kau sembunyikan
dariku? Kamu sudah tau banyak tentang aku tapi kamu tetap menjadi misteri
bagiku!. Kenapa wanita tadi memanggilmu dengan sebutan Lastri, Apa ini semua
kebetulan?”
“Kalau ternyata Lastri itu aku. Gimana?”
“Saya memang membenci perempuan yang bernama Lastri,
tapi kalau kamu perempuan yang bernama Lastri itu. Saya sungguh tidak berdaya”
“Kalau aku Lastri apa kamu mau memaafkanku?”
“Pasti, pasti saya akan memaafkanmu” ucap Rama
Pada Malam hari saat Lastri pulang ke rumah Pak Suryo
ia di kagetkan dengan begitu banyak bingkisan yang berupa peralatan bayi dan
tambah terkejut lagi yang mengirim semua itu adalah Angga mantan pacar lastri
yang ternyata ia terus mencari tau keberadaan lastri dan juga mengetahui lastri
berpura-pura sebagai Maya. Dengan kelicikan angga mengancam Lastri akan
membongkar semua rahasianya jika ia tidak memberikan sebagian harta yang di miliki
Almarhum Aryo anak dari Pak Suryo itu. Keesokan hari lastri datang menemui Angga
yang sudah dari tadi menunggunya di Restoran, Perdebatan pun terjadi lagi Angga
tetap mengiginkan harta yang akan lastri dapatkan dari keluarga Pak Suryo itu
karena Angga mengetahui Pak Suryo adalah orang yang sangat Kaya di wilayah itu.
mendengar omongan Angga yang sangat tidak di sukai lastri. Lastri pun pergi meninggalkan tempat itu. Di
dalam kamar lastri melamun ia teringat ucapan Angga, jika ia tidak menurutinya
maka rahasia itu bisa saja di bongkar oleh Angga.
Terdengar suara ketukan pintu dari luar.
Tuk.tuk..tuk..
“Maya Bapak panggil kamu ke ruang tamu”
Kemudian Maya pun segera ke sana.
“Bapak panggil saya?”
“Iya Maya, ini ada surat Asuransi suamimu yang bernilai 1.5 M, uang ini bisa keluar
kalau kamu sudah menandatanganinya”
“eehmm.. Pak, Saya yang harus tanda tangan?”
“Iya, Kamu Istrinya hanya kamu yang berhak
mendatangani itu”
“hmm.. Tapi maaf pak”.
“Agh… Uang itu menjadi hakmu Maya, sebaiknya kamu
cepat tandatangani supaya besok biar di bawa ke Rama. Sebab Rama yang akan
mengurusnya”
Dengan kebingungan Lastri mondar-mandir di dalam
kamar, ia ingin memalsukan tanda tanggan Maya tapi ia takut sebab resikonya
adalah penjara lalu ia berfikir mungkin ini adalah waktu yang tepat untuk
berterus terang kepada Rama. Lalu Lastri mengambil sebuah kertas dan menuliskan
surat untuk Rama.
Pagi hari ketika surat Asuransi itu mau di antarkan ke
Rama oleh bang Tarjo adalah pembantu di rumah Pak Suryo, lalu langkah kakinya
di berhentikan oleh Pak Suryo dan menuju ke arahnya untuk mengecek kembali
surat itu. Ketika Map Asuransi di buka, surat lastri yang akan di berikan untuk
Rama pun jatuh. Tanpa sengaja pun pak suryo membuka surat lastri dan
membacanya.
Rama, maafkan aku. Sepertinya aku tidak
mungkin menghindari lagi
Aku tidak akan selamanya menjadi
misteri
Sungguh tidak adil buatmu jika aku
tidak mengatakan siapa aku sebenarnya
Inilah saatnya Rama, kau ketahui
siapa aku.
Aku katakan yang sebenar-benarnya,
aku memang bukan Maya. Bukan maya.
Akulah Lastri, lastri yang
menghancurkan hidupmu.
Sekali lagi maafkan aku Rama
Aku memang sangat berdosa padamu.
Ketika membaca surat itu, Pak Suryo dengan sangat
marah, sedih, kecewa. Bahwa selama ini ia sudah di bohongi oleh lastri yang
berpura-pura sebagai Maya.
Pada Malam hari, suasana yang begitu hening di dalam
rumah itu. Lastri menuju kamar pak Suryo.
“Maaf pak, makan malamnya sudah siap” ucap Lastri
“tidak usah! Saya tidak berselera untuk makan”
“untuk itu saya minta maaf kalau masakkan saya tidak
enak, kalau gitu saya pesan di luar saja ya”
“Tidak perlu! “saya paling benci dalam hidup ini
adalah kemunafikkan, kebohongan dan itu tidak akan pernah bisa aku maafkan”
“Apa yang kamu sembunyikan sesungguhnya? Siapa kamu
sebenarnya?!.”
|”Apa ini?” menunjukkan surat lastri “Hari ini
sandiwaramu sudah berakhir, kebohonganmu sudah terbongkar. Sebenarnya kami
sangat menyayangimu, mencintaimu, semua sudah kami percayakan sama kamu Lastri.
Uang kami, harta kami, bahkan namamu sudah ku tuliskan dalam surat wasiatku
sebagai pewarisku. Dan ternyata kamu seorang pembohong dan penipu”
“Maaf pak, maaf” Ucap lastri
“Owek..Owek..Owek”
Suara tangis Bayu terdengar, kemudian lastri menuju ke
ke arah ranjang tempat tidur Bayu lalu mengendongnya dan memberikan ia susu.
Kemudian lastri memasukkan semua pakaiannya di dalam koper dan ingin
meninggalkan rumah Pak Suryo. Akan tetapi langkah Lastri terhenti karena ia
mendengar suara Pak Suryo.
“Sudah ku duga kamu akan pergi diam-diam”
Lastri menuju ke arah pak Suryo dan membuka isi
kopernya sambil mengatakan bahwa ia tidak membawa apapun dari rumah itu.
“tapi saya tidak membawa apa-apa pak, silakan bapak
periksa sendiri”
“Lalu kenangan apa yang akan kamu bawa jika Rama
menanyakanmu, jika cucuku menangis, jika istriku mencarimu dan jika warga
bertanya kemana manantuku. Apa. apa yang harus ku jawab Lastri?’’
“Bapak bisa jawab kepada mereka bahwa menantu bapak
yang asli sudah meninggal dan menantu bapak yang palsu sudah kabur dari rumah,
sandiwara ini sudah berakhir pak”
“Sandiwara sudah berakhir tapi kehidupan yang
sebenarnya tidak”
“Kehidupan yang mana pak, seperti apa?”
“Jangan biarkan
lastri hidup kembali, kamu adalah Maya menantuku”
Kemudian Lastri
bersujud di bawa kaki pak Suryo dan meminta maaf, ia berkata tidak akan
meninggalkan rumah itu dan tetap akan menjadi Maya. Hanya untuk Bayu, Ibu dan
Pak Suryo serta untuk semuanya.
Lalu Rama dan
Lastri pun hidup Bahagia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar