Sabtu, 30 Desember 2017

AKU TETAP MILIKMU


        Pada pagi hari di sebuah rumah yang begitu mewah seorang mempelai pria yang bernama Rama beserta keluarga datang kemudian di sambut dengan baik oleh keluarga mempelai perempuan yang akan menjadi menantu dari keluarga perempuan itu.
Di dalam kamar pengantin Lastri duduk termenung karena ia tidak mengiginkan pernikahan ini berlangsung bersama orang yang tidak ia ketahui, sebab ia di jodohkan oleh pamannya, mengingat paman lastri yang sudah lanjut usia. Maka paman Lastri mengiginkan kebahagian untuk Lastri.
“Mbak ada seseorang yang menitipkan kado ini untuk mbak. Permisi dulu ya mbak.” Ucap Widya
Dengan perlahan-lahan Lastri membuka bagian atas kado tersebut yang di dalamnya berisikan surat-surat yang ternyata dari kekasihnya.
            Lastri aku tau aku sudah bukan kekasihmu lagi
            Karena itu aku kirim surat ini beserta surat-suratmu padaku dulu
            Agar kita menyadari bahwa kita tidak saling memililki lagi
            Hari ini segala mimpi indah kita sudah berakhir
            Kita hanya bisa menyimpannya menjadi kenangan yang tidak terlupakan
            Lastri aku tidak akan menyalahkanmu dan aku harap kamu tidak menyalahkan pamanmu
            Yang memaksamu menikah Bersama lelaki pilihannya.
            Memang terasa perih namun aku akan selalu berdoa untuk  kebahagianmu.
Sambil duduk di kursi  Lastri membaca surat itu sambil menangis tersedu-seduh kemudian memeluk suratnya dan memanggil nama Angga lalu berkata maafkan aku.
Kemudian Lastri kabur dari pernikahannya menuju rumah Angga karena ia sangat mencintai Angga. Tiba di depan pintu rumah Angga dan ingin mengetuk pintu tangan lastri tertahan sebab ia mendengar suara Angga lagi berbicara sama seorang wanita di dalam rumah itu.
“Sadra apa-apaan ini”
“tidak” menarik botol minuman yang di oleh angga
“Biarkan aku minum sandar!”
“Tidak angga, kalau alasannya karena Lastri aku tidak mengizinkan kamu minum”
“Hahaha Sadra, sadra, aku memang kecewa karena gagal mendapatkan Lastri, tujuanku mendapatkan lastri hanya untuk menguasai harta kekayaan pamannya”
“Betul kamu tidak pernah mencintai lastri”
“iya betul sayang aku hanya mencintaimu, dan cintaku hanya untuk kau seorang”
Kemudian Sandra memeluk angga  dengan begitu mesrahnya sambil ketawa bersama, akan tetapi suasana tersebut tiba-tiba lansung hening, begitu lastri membuka pintu rumah  sangat keras dan membuat angga dan Sandra kaget serta mata mereka langsung terplongo melihat lastri yang tengah berdiri di depan pintu.
“Lastri”
“Angga hari ini aku lari dari pernikahan aku karena cintaku padamu, karena cinta kita angga. Tapi apa yang ku dapatkan. Semua pengorbanan aku”
“Tunggu lastri tunggu biar aku jelaskan” rangga menghamipiri lastri
“Cukup angga, cukup. Aku sudah dengar semuanya Angga. Sudah lama aku berdiri di belakang pintu jadi aku tau semuanya, ternyata laki-laki yang aku cintai adalah seorang penipu yang mengiginkan harta pamanku”. Lastri menangis tersedu-sedu
“Lastri biar aku jelaskan” kata angga
“Gak, kamu bajingan, kamu penipu kamu sudah bohongi aku”  Lastri mendorong angga  sampai terjatuh di sofa lalu memukulnya..
Kemudian dengan rasa kecewa lastri berlari meninggalkan rumah tersebut sambil menangis.
Tak lama kemudian, lastri sampai di rumah secara tidak sengaja ia mendengar  percakapan dari salah seorang tamu undangan yang tengah membantu membereskan kursi-kursi yang akan di angkut oleh mobil
“Aghh, kasihan pak Harjo di permalukan sama keponakannya sendiri, kalau aku punya keponakan seperti itu. sudah ku gantung dia” kata Seorang tamu undangan
Lastri berlari kearah rumahnya kemudian menaiki tangga rumah dan memanggil pamannya, setelah sampai di anak tangga terakhir lastri melihat pamannya lagi duduk di kursi yang mengarah ke jendela dan di depan tempat paman duduk itu terpajang sebuah foto yang adalah istri paman. Lastri berjalan perlahan-lahan menghampiri pamannya.
 “Maafkan saya paman, saya menyesal paman. Lastri tau, Lastri sudah mengecewakan paman. Hukumlah lastri paman  walaupun lastri tau hukuman itu tak akan bisa menghapus kekecewaan paman gak akan bisa menghilangkan rasa malu paman”
“Maafkan lastri paman”
Lastri menghamipi pamannya dan ternyata paman lastri sudah meninggal di kursi yang ia dudukki. Dengan suara yang keras Lastri memanggil-manggil pamannya berulang-ulang kali seketika itu deraian air mata  lastri mengalir membasahi pipinya.
Semenjak kejadian itu lastri sangat terpukul kini hidupnya hanya sebatang kara semenjak kedua orang tuanya meninggal ia di titipkan kepada pamannya, tetapi paman yang begitu menyayangi lastri telah pergi juga.
1 tahun pun berlalu.
Lastri pergi ke rumah salah satu sahabatnya. Ia mengetuk pintu rumah itu lalu menunggu di depan rumah, tidak lama kemudian pintu rumah tersebut di buka.
“Lastri’ ucap maya
‘ehm. maya kamu apa kabar?” tanya lastri
“Iya baik,ayo silakan masuk’’ ajak maya
Terdengar tangisan bayi “OWEKOWEK” Lastri menuju kearah itu.
“Maya kok kamu tidak pernah bilang kalau sudah punya bayi”
“Maafkan aku las, sebenarnya aku sudah menikah 3 tahun lalu, tapi karena keluarga suami ku tidak setuju terpaksa kami kawin lari lastri. Itu sebabnya aku tidak bisa mengundang siapa-siapa”
Maya menangis sambil berjalan menuju sofa kemudian ia duduk di situ dan menutup mukanya dengan kedua telapak tangannya lalu menangis tersedu-sedu.
“Maya kamu kenapa nangis?” kata lastri
“5 bulan yang lalu saat bayi belum genap berusia 1 bulan mas Aryo terkena kanker ganas dan telah merenggut nyawanya dan hari ini aku harus ke makam suamiku untuk menebur bunga dan sekaligus menemui mertuaku”
“ya udah kamu yang sabar ya Maya”
“Las, kamu gak tau kan mau kemana, kamu ikut aku aja ya bertemu mertuaku dan kemakam suamiku’’
“Aduh may, kayaknya aku gak bisa ikut deh. Aku takut’’
“Kamu jangan khawatir mertuaku belum pernah melihat aku, melihat fotokupun juga belum nanti aku bilang kalua kamu adikku”
Kemudian maya dan lastri di antar supir pribadi Maya menuju rumah mertua. Dalam perjalanan di dalam mobil itu Maya melihat Lastri yang dari tadi sedang melamun dan Maya pun bertanya kepada lastri apa yang tengah ia lamunkan, ternyata lastri terpikirkan dengan kejadian yang menimpanya 1 tahun lalu dan membuat perkawinannya gagal. Pada saat mereka berdua lagi berbincang-bincang dari arah berlawanan terlihat mobil truk yang sangat laju sangat kencang sehingga mobil yang di tumpangi maya dan lastri tidak bisa menghindarinya lalu supirpun memutar setir mobil kearah kanan dan di depan tersebut ada sebuah pohon tanpa bisa menghindari lagi kemudian mobil menabrak pohon tersebut. Supir tewas di tempat kejadian dengan kepala terbentur kaca depan mobil, Dengan nafas yang terengah-engah maya berkata kepada Lastri.
“Kau harus menjadi ibunya’’ kata maya dengan keadaan yang sudah sekarat ditempat kejadian itu. Darah yang keluar begitu banyak dari badan Maya.
 “aku titipkan Bayu kepadamu, dia sudah tidak punya siapa-siapa lagi. Bawa dia ke rumah neneknya dan kakeknya dan ke makam ayahnya, kau harus berjanji padaku kan menjadi ibunya Bayu, kau harus merawatnya. Janji lastri’’ setelah mengucapkan itu mayapun meniggal.
Keesokan harinya Lastri dan bayi Maya yang ia namakan Bayu pergi menuju ke mertua maya  di perjalanan ternyata mobil yang di tumpangi maya salah jalan, supir yang membawa mobil itu sengaja memutar balik arah. Lastripun marah meminta supir segera memutar balik arah akan tetapi mobil itu terus melaju. Ternyata mobil yang di sewa lastri adalah punya komplotan pencuri. Dalam perjalanan supir itu berhenti tiba-tiba di tengah jalan yang sangat sepi mungkin hanya beberapa orang saja yang melewati jalan itu. lalu datanglah tiga orang yang adalah anak buah dari pencuri itu lalu memaksa lastri segera memberikan semua uang yang dia punya, Lastripun teriak mengatakan tidak mau, pencuri tersebut memaksa. Sehingga ada seorang pengandara yang lagi melewati jalan tersebut berhenti lalu berjalan menuju mobil pencuri itu. Kemudian terjadilah adu mulut antara salah satu pencuri yang mengatakan kepada pemuda itu jangan mencampuri urusannya. Kemudian terjadilah perkelahian antara pencuri dan pemuda itu. Beberapa selang waktu kemudian ke empat pencuri itu mengaku kalah dan pergi. Kemudian pemuda tersebut menghampiri lastri yang sedang berdiri di samping mobil dan berkenalan sama lastri. Pemuda itu mengatakan bahwa ia bernama Rama. Lastripun tidak mengatakan nama sebenarnyanya, melainkan ia berpura-pura sebagai  Maya sahabatnya yang sudah meninggal dan ibu dari bayi yang di bawa oleh lastri.
Setelah itu lastri pergi ke rumah mertua Maya, sesampainya di rumah itu lastri masuk ke dalam rumah yang sedang terbuka lebar.
“Eh kamu siapa?” Pak suryo Ayah Aryo bertanya dengan tampak binggung karena ia melihat wanita tersebut menggendong seorang bayi.
“Saya Maya, istrinya mas Aryo” ucap lastri
“Apa? Istri Aryo. Lalu ini siapa?” Ayah Aryo menunjuk ke arah bayi yang di gendong oleh lastri
“ini cucu bapak, anaknya mas Aryo’’ kata lastri yang berpura-pura sebagai Maya.
Suara yang sangat keras Pak Suryo memanggil istrinya dengan sebutan Ibu.
“Buk,buk, buk! Cepat kesini”
“Iya, ada apa pak. Kenapa teriak-teriak”
Ibu Aryo yang berjalan menuruni tangga rumahnya dan langsung menghamipiri mereka.
“Ayo sini buk,lihat cucu kita dan ini Maya istrinya Aryo, kalau ibu bisa tebak ini siapa. Hm. Bayu”
“Bayu? Bayu cucuku ini.” Ucap ibu Aryo dengan sangat senang
Ayah Aryo menggendong cucunya dengan sangat gembira.
“Akhirnya kamu datang juga mantuku” kata ibu Aryo sembari memeluk Lastri yang dari awal berpura-pura sebagai Maya.
Kemudian Lastri di antar ke kamar Aryo untuk beristirahat.
Keesokan hari.
Pada pagi yang sangat cerah Keluarga Aryo tersebut pergi ke makam Aryo suami Maya untuk menabur bunga. kebetulan Rama adalah saudara dari Ayah Aryo sehingga ia juga datang kepemakaman itu.
Pada siang harinya Rama datang kerumah pakdenya itu adalah panggilan buat Ayah Aryo, Rama berniat mengajak pakde dan budenya menghadiri acara pesta ulang tahun yang akan ia buat besok malam akan tetapi pakdenya tidak bisa sebab ada urusan mendadak. Kemudian Pak Suryo menyuruh Maya mewakilinya untuk datang ke pesta ulang tahun Rama.
Keesokan harinya. pada malam hari di rumah yang sangat mewah Rama menyelenggarakan acara pesta yang sangat meriah itu juga di hadiri oleh teman-temannya yang begitu banyak. Pada saat pemotongan kue Ulang tahun yang pertama Rama menegok ke kanan dan ke kiri sambil melihat-lihat. Beberapa saat kemudian Maya datang, Rama pun berjalan menuju ke arah Maya dan mengasih kue potongan pertama itu untuk Maya.
Kedekatan Rama dan Maya terjalin sangat baik. Sehingga Rama pun berani megajak Maya berjalan-jalan di sebuah taman bunga. Pada saat asik berjalan-jalan sambil mengobrol ada seorang wanita dari kejauhan yang berjalan dari arah berlawanan Rama dan Maya itu memanggil nama Lastri dengan begitu kaget Maya pun berbalik badan kemudian lari dari tempat tersebut Rama pun ikut berlari mengejar Maya.
“Maya tunggu Maya. Sebenarnya apa yang kau sembunyikan dariku? Kamu sudah tau banyak tentang aku tapi kamu tetap menjadi misteri bagiku!. Kenapa wanita tadi memanggilmu dengan sebutan Lastri, Apa ini semua kebetulan?”
“Kalau ternyata Lastri itu aku. Gimana?”
“Saya memang membenci perempuan yang bernama Lastri, tapi kalau kamu perempuan yang bernama Lastri itu. Saya sungguh tidak berdaya”
“Kalau aku Lastri apa kamu mau memaafkanku?”
“Pasti, pasti saya akan memaafkanmu” ucap Rama
Pada Malam hari saat Lastri pulang ke rumah Pak Suryo ia di kagetkan dengan begitu banyak bingkisan yang berupa peralatan bayi dan tambah terkejut lagi yang mengirim semua itu adalah Angga mantan pacar lastri yang ternyata ia terus mencari tau keberadaan lastri dan juga mengetahui lastri berpura-pura sebagai Maya. Dengan kelicikan angga mengancam Lastri akan membongkar semua rahasianya jika ia tidak memberikan sebagian harta yang di miliki Almarhum Aryo anak dari Pak Suryo itu. Keesokan hari lastri datang menemui Angga yang sudah dari tadi menunggunya di Restoran, Perdebatan pun terjadi lagi Angga tetap mengiginkan harta yang akan lastri dapatkan dari keluarga Pak Suryo itu karena Angga mengetahui Pak Suryo adalah orang yang sangat Kaya di wilayah itu. mendengar omongan Angga yang sangat tidak di sukai lastri.  Lastri pun pergi meninggalkan tempat itu. Di dalam kamar lastri melamun ia teringat ucapan Angga, jika ia tidak menurutinya maka rahasia itu bisa saja di bongkar oleh Angga.
Terdengar suara ketukan pintu dari luar.
Tuk.tuk..tuk..
“Maya Bapak panggil kamu ke ruang tamu”
Kemudian Maya pun segera ke sana.
“Bapak panggil saya?”
“Iya Maya, ini ada surat Asuransi suamimu  yang bernilai 1.5 M, uang ini bisa keluar kalau kamu sudah menandatanganinya”
“eehmm.. Pak, Saya yang harus tanda tangan?”
“Iya, Kamu Istrinya hanya kamu yang berhak mendatangani itu”
“hmm.. Tapi maaf pak”.
“Agh… Uang itu menjadi hakmu Maya, sebaiknya kamu cepat tandatangani supaya besok biar di bawa ke Rama. Sebab Rama yang akan mengurusnya”
Dengan kebingungan Lastri mondar-mandir di dalam kamar, ia ingin memalsukan tanda tanggan Maya tapi ia takut sebab resikonya adalah penjara lalu ia berfikir mungkin ini adalah waktu yang tepat untuk berterus terang kepada Rama. Lalu Lastri mengambil sebuah kertas dan menuliskan surat untuk Rama.
Pagi hari ketika surat Asuransi itu mau di antarkan ke Rama oleh bang Tarjo adalah pembantu di rumah Pak Suryo, lalu langkah kakinya di berhentikan oleh Pak Suryo dan menuju ke arahnya untuk mengecek kembali surat itu. Ketika Map Asuransi di buka, surat lastri yang akan di berikan untuk Rama pun jatuh. Tanpa sengaja pun pak suryo membuka surat lastri dan membacanya.
            Rama, maafkan aku. Sepertinya aku tidak mungkin menghindari lagi
            Aku tidak akan selamanya menjadi misteri
            Sungguh tidak adil buatmu jika aku tidak mengatakan siapa aku sebenarnya
            Inilah saatnya Rama, kau ketahui siapa aku.
            Aku katakan yang sebenar-benarnya, aku memang bukan Maya. Bukan maya.
            Akulah Lastri, lastri yang menghancurkan hidupmu.
            Sekali lagi maafkan aku Rama
            Aku memang sangat berdosa padamu.
Ketika membaca surat itu, Pak Suryo dengan sangat marah, sedih, kecewa. Bahwa selama ini ia sudah di bohongi oleh lastri yang berpura-pura sebagai Maya.
Pada Malam hari, suasana yang begitu hening di dalam rumah itu. Lastri menuju kamar pak Suryo.
“Maaf pak, makan malamnya sudah siap” ucap Lastri
“tidak usah! Saya tidak berselera untuk makan”
“untuk itu saya minta maaf kalau masakkan saya tidak enak, kalau gitu saya pesan di luar saja ya”
“Tidak perlu! “saya paling benci dalam hidup ini adalah kemunafikkan, kebohongan dan itu tidak akan pernah bisa aku maafkan”
“Apa yang kamu sembunyikan sesungguhnya? Siapa kamu sebenarnya?!.”
|”Apa ini?” menunjukkan surat lastri “Hari ini sandiwaramu sudah berakhir, kebohonganmu sudah terbongkar. Sebenarnya kami sangat menyayangimu, mencintaimu, semua sudah kami percayakan sama kamu Lastri. Uang kami, harta kami, bahkan namamu sudah ku tuliskan dalam surat wasiatku sebagai pewarisku. Dan ternyata kamu seorang pembohong dan penipu”
“Maaf pak, maaf” Ucap lastri
“Owek..Owek..Owek”
Suara tangis Bayu terdengar, kemudian lastri menuju ke ke arah ranjang tempat tidur Bayu lalu mengendongnya dan memberikan ia susu. Kemudian lastri memasukkan semua pakaiannya di dalam koper dan ingin meninggalkan rumah Pak Suryo. Akan tetapi langkah Lastri terhenti karena ia mendengar suara Pak Suryo.
“Sudah ku duga kamu akan pergi diam-diam”
Lastri menuju ke arah pak Suryo dan membuka isi kopernya sambil mengatakan bahwa ia tidak membawa apapun dari rumah itu.
“tapi saya tidak membawa apa-apa pak, silakan bapak periksa sendiri”
“Lalu kenangan apa yang akan kamu bawa jika Rama menanyakanmu, jika cucuku menangis, jika istriku mencarimu dan jika warga bertanya kemana manantuku. Apa. apa yang harus ku jawab Lastri?’’
“Bapak bisa jawab kepada mereka bahwa menantu bapak yang asli sudah meninggal dan menantu bapak yang palsu sudah kabur dari rumah, sandiwara ini sudah berakhir pak”
“Sandiwara sudah berakhir tapi kehidupan yang sebenarnya tidak”
“Kehidupan yang mana pak, seperti apa?”
“Jangan biarkan lastri hidup kembali, kamu adalah Maya menantuku”
Kemudian Lastri bersujud di bawa kaki pak Suryo dan meminta maaf, ia berkata tidak akan meninggalkan rumah itu dan tetap akan menjadi Maya. Hanya untuk Bayu, Ibu dan Pak Suryo serta untuk semuanya.
Lalu Rama dan Lastri pun hidup Bahagia.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar