Sabtu, 30 Desember 2017

AKU TETAP MILIKMU


        Pada pagi hari di sebuah rumah yang begitu mewah seorang mempelai pria yang bernama Rama beserta keluarga datang kemudian di sambut dengan baik oleh keluarga mempelai perempuan yang akan menjadi menantu dari keluarga perempuan itu.
Di dalam kamar pengantin Lastri duduk termenung karena ia tidak mengiginkan pernikahan ini berlangsung bersama orang yang tidak ia ketahui, sebab ia di jodohkan oleh pamannya, mengingat paman lastri yang sudah lanjut usia. Maka paman Lastri mengiginkan kebahagian untuk Lastri.
“Mbak ada seseorang yang menitipkan kado ini untuk mbak. Permisi dulu ya mbak.” Ucap Widya
Dengan perlahan-lahan Lastri membuka bagian atas kado tersebut yang di dalamnya berisikan surat-surat yang ternyata dari kekasihnya.
            Lastri aku tau aku sudah bukan kekasihmu lagi
            Karena itu aku kirim surat ini beserta surat-suratmu padaku dulu
            Agar kita menyadari bahwa kita tidak saling memililki lagi
            Hari ini segala mimpi indah kita sudah berakhir
            Kita hanya bisa menyimpannya menjadi kenangan yang tidak terlupakan
            Lastri aku tidak akan menyalahkanmu dan aku harap kamu tidak menyalahkan pamanmu
            Yang memaksamu menikah Bersama lelaki pilihannya.
            Memang terasa perih namun aku akan selalu berdoa untuk  kebahagianmu.
Sambil duduk di kursi  Lastri membaca surat itu sambil menangis tersedu-seduh kemudian memeluk suratnya dan memanggil nama Angga lalu berkata maafkan aku.
Kemudian Lastri kabur dari pernikahannya menuju rumah Angga karena ia sangat mencintai Angga. Tiba di depan pintu rumah Angga dan ingin mengetuk pintu tangan lastri tertahan sebab ia mendengar suara Angga lagi berbicara sama seorang wanita di dalam rumah itu.
“Sadra apa-apaan ini”
“tidak” menarik botol minuman yang di oleh angga
“Biarkan aku minum sandar!”
“Tidak angga, kalau alasannya karena Lastri aku tidak mengizinkan kamu minum”
“Hahaha Sadra, sadra, aku memang kecewa karena gagal mendapatkan Lastri, tujuanku mendapatkan lastri hanya untuk menguasai harta kekayaan pamannya”
“Betul kamu tidak pernah mencintai lastri”
“iya betul sayang aku hanya mencintaimu, dan cintaku hanya untuk kau seorang”
Kemudian Sandra memeluk angga  dengan begitu mesrahnya sambil ketawa bersama, akan tetapi suasana tersebut tiba-tiba lansung hening, begitu lastri membuka pintu rumah  sangat keras dan membuat angga dan Sandra kaget serta mata mereka langsung terplongo melihat lastri yang tengah berdiri di depan pintu.
“Lastri”
“Angga hari ini aku lari dari pernikahan aku karena cintaku padamu, karena cinta kita angga. Tapi apa yang ku dapatkan. Semua pengorbanan aku”
“Tunggu lastri tunggu biar aku jelaskan” rangga menghamipiri lastri
“Cukup angga, cukup. Aku sudah dengar semuanya Angga. Sudah lama aku berdiri di belakang pintu jadi aku tau semuanya, ternyata laki-laki yang aku cintai adalah seorang penipu yang mengiginkan harta pamanku”. Lastri menangis tersedu-sedu
“Lastri biar aku jelaskan” kata angga
“Gak, kamu bajingan, kamu penipu kamu sudah bohongi aku”  Lastri mendorong angga  sampai terjatuh di sofa lalu memukulnya..
Kemudian dengan rasa kecewa lastri berlari meninggalkan rumah tersebut sambil menangis.
Tak lama kemudian, lastri sampai di rumah secara tidak sengaja ia mendengar  percakapan dari salah seorang tamu undangan yang tengah membantu membereskan kursi-kursi yang akan di angkut oleh mobil
“Aghh, kasihan pak Harjo di permalukan sama keponakannya sendiri, kalau aku punya keponakan seperti itu. sudah ku gantung dia” kata Seorang tamu undangan
Lastri berlari kearah rumahnya kemudian menaiki tangga rumah dan memanggil pamannya, setelah sampai di anak tangga terakhir lastri melihat pamannya lagi duduk di kursi yang mengarah ke jendela dan di depan tempat paman duduk itu terpajang sebuah foto yang adalah istri paman. Lastri berjalan perlahan-lahan menghampiri pamannya.
 “Maafkan saya paman, saya menyesal paman. Lastri tau, Lastri sudah mengecewakan paman. Hukumlah lastri paman  walaupun lastri tau hukuman itu tak akan bisa menghapus kekecewaan paman gak akan bisa menghilangkan rasa malu paman”
“Maafkan lastri paman”
Lastri menghamipi pamannya dan ternyata paman lastri sudah meninggal di kursi yang ia dudukki. Dengan suara yang keras Lastri memanggil-manggil pamannya berulang-ulang kali seketika itu deraian air mata  lastri mengalir membasahi pipinya.
Semenjak kejadian itu lastri sangat terpukul kini hidupnya hanya sebatang kara semenjak kedua orang tuanya meninggal ia di titipkan kepada pamannya, tetapi paman yang begitu menyayangi lastri telah pergi juga.
1 tahun pun berlalu.
Lastri pergi ke rumah salah satu sahabatnya. Ia mengetuk pintu rumah itu lalu menunggu di depan rumah, tidak lama kemudian pintu rumah tersebut di buka.
“Lastri’ ucap maya
‘ehm. maya kamu apa kabar?” tanya lastri
“Iya baik,ayo silakan masuk’’ ajak maya
Terdengar tangisan bayi “OWEKOWEK” Lastri menuju kearah itu.
“Maya kok kamu tidak pernah bilang kalau sudah punya bayi”
“Maafkan aku las, sebenarnya aku sudah menikah 3 tahun lalu, tapi karena keluarga suami ku tidak setuju terpaksa kami kawin lari lastri. Itu sebabnya aku tidak bisa mengundang siapa-siapa”
Maya menangis sambil berjalan menuju sofa kemudian ia duduk di situ dan menutup mukanya dengan kedua telapak tangannya lalu menangis tersedu-sedu.
“Maya kamu kenapa nangis?” kata lastri
“5 bulan yang lalu saat bayi belum genap berusia 1 bulan mas Aryo terkena kanker ganas dan telah merenggut nyawanya dan hari ini aku harus ke makam suamiku untuk menebur bunga dan sekaligus menemui mertuaku”
“ya udah kamu yang sabar ya Maya”
“Las, kamu gak tau kan mau kemana, kamu ikut aku aja ya bertemu mertuaku dan kemakam suamiku’’
“Aduh may, kayaknya aku gak bisa ikut deh. Aku takut’’
“Kamu jangan khawatir mertuaku belum pernah melihat aku, melihat fotokupun juga belum nanti aku bilang kalua kamu adikku”
Kemudian maya dan lastri di antar supir pribadi Maya menuju rumah mertua. Dalam perjalanan di dalam mobil itu Maya melihat Lastri yang dari tadi sedang melamun dan Maya pun bertanya kepada lastri apa yang tengah ia lamunkan, ternyata lastri terpikirkan dengan kejadian yang menimpanya 1 tahun lalu dan membuat perkawinannya gagal. Pada saat mereka berdua lagi berbincang-bincang dari arah berlawanan terlihat mobil truk yang sangat laju sangat kencang sehingga mobil yang di tumpangi maya dan lastri tidak bisa menghindarinya lalu supirpun memutar setir mobil kearah kanan dan di depan tersebut ada sebuah pohon tanpa bisa menghindari lagi kemudian mobil menabrak pohon tersebut. Supir tewas di tempat kejadian dengan kepala terbentur kaca depan mobil, Dengan nafas yang terengah-engah maya berkata kepada Lastri.
“Kau harus menjadi ibunya’’ kata maya dengan keadaan yang sudah sekarat ditempat kejadian itu. Darah yang keluar begitu banyak dari badan Maya.
 “aku titipkan Bayu kepadamu, dia sudah tidak punya siapa-siapa lagi. Bawa dia ke rumah neneknya dan kakeknya dan ke makam ayahnya, kau harus berjanji padaku kan menjadi ibunya Bayu, kau harus merawatnya. Janji lastri’’ setelah mengucapkan itu mayapun meniggal.
Keesokan harinya Lastri dan bayi Maya yang ia namakan Bayu pergi menuju ke mertua maya  di perjalanan ternyata mobil yang di tumpangi maya salah jalan, supir yang membawa mobil itu sengaja memutar balik arah. Lastripun marah meminta supir segera memutar balik arah akan tetapi mobil itu terus melaju. Ternyata mobil yang di sewa lastri adalah punya komplotan pencuri. Dalam perjalanan supir itu berhenti tiba-tiba di tengah jalan yang sangat sepi mungkin hanya beberapa orang saja yang melewati jalan itu. lalu datanglah tiga orang yang adalah anak buah dari pencuri itu lalu memaksa lastri segera memberikan semua uang yang dia punya, Lastripun teriak mengatakan tidak mau, pencuri tersebut memaksa. Sehingga ada seorang pengandara yang lagi melewati jalan tersebut berhenti lalu berjalan menuju mobil pencuri itu. Kemudian terjadilah adu mulut antara salah satu pencuri yang mengatakan kepada pemuda itu jangan mencampuri urusannya. Kemudian terjadilah perkelahian antara pencuri dan pemuda itu. Beberapa selang waktu kemudian ke empat pencuri itu mengaku kalah dan pergi. Kemudian pemuda tersebut menghampiri lastri yang sedang berdiri di samping mobil dan berkenalan sama lastri. Pemuda itu mengatakan bahwa ia bernama Rama. Lastripun tidak mengatakan nama sebenarnyanya, melainkan ia berpura-pura sebagai  Maya sahabatnya yang sudah meninggal dan ibu dari bayi yang di bawa oleh lastri.
Setelah itu lastri pergi ke rumah mertua Maya, sesampainya di rumah itu lastri masuk ke dalam rumah yang sedang terbuka lebar.
“Eh kamu siapa?” Pak suryo Ayah Aryo bertanya dengan tampak binggung karena ia melihat wanita tersebut menggendong seorang bayi.
“Saya Maya, istrinya mas Aryo” ucap lastri
“Apa? Istri Aryo. Lalu ini siapa?” Ayah Aryo menunjuk ke arah bayi yang di gendong oleh lastri
“ini cucu bapak, anaknya mas Aryo’’ kata lastri yang berpura-pura sebagai Maya.
Suara yang sangat keras Pak Suryo memanggil istrinya dengan sebutan Ibu.
“Buk,buk, buk! Cepat kesini”
“Iya, ada apa pak. Kenapa teriak-teriak”
Ibu Aryo yang berjalan menuruni tangga rumahnya dan langsung menghamipiri mereka.
“Ayo sini buk,lihat cucu kita dan ini Maya istrinya Aryo, kalau ibu bisa tebak ini siapa. Hm. Bayu”
“Bayu? Bayu cucuku ini.” Ucap ibu Aryo dengan sangat senang
Ayah Aryo menggendong cucunya dengan sangat gembira.
“Akhirnya kamu datang juga mantuku” kata ibu Aryo sembari memeluk Lastri yang dari awal berpura-pura sebagai Maya.
Kemudian Lastri di antar ke kamar Aryo untuk beristirahat.
Keesokan hari.
Pada pagi yang sangat cerah Keluarga Aryo tersebut pergi ke makam Aryo suami Maya untuk menabur bunga. kebetulan Rama adalah saudara dari Ayah Aryo sehingga ia juga datang kepemakaman itu.
Pada siang harinya Rama datang kerumah pakdenya itu adalah panggilan buat Ayah Aryo, Rama berniat mengajak pakde dan budenya menghadiri acara pesta ulang tahun yang akan ia buat besok malam akan tetapi pakdenya tidak bisa sebab ada urusan mendadak. Kemudian Pak Suryo menyuruh Maya mewakilinya untuk datang ke pesta ulang tahun Rama.
Keesokan harinya. pada malam hari di rumah yang sangat mewah Rama menyelenggarakan acara pesta yang sangat meriah itu juga di hadiri oleh teman-temannya yang begitu banyak. Pada saat pemotongan kue Ulang tahun yang pertama Rama menegok ke kanan dan ke kiri sambil melihat-lihat. Beberapa saat kemudian Maya datang, Rama pun berjalan menuju ke arah Maya dan mengasih kue potongan pertama itu untuk Maya.
Kedekatan Rama dan Maya terjalin sangat baik. Sehingga Rama pun berani megajak Maya berjalan-jalan di sebuah taman bunga. Pada saat asik berjalan-jalan sambil mengobrol ada seorang wanita dari kejauhan yang berjalan dari arah berlawanan Rama dan Maya itu memanggil nama Lastri dengan begitu kaget Maya pun berbalik badan kemudian lari dari tempat tersebut Rama pun ikut berlari mengejar Maya.
“Maya tunggu Maya. Sebenarnya apa yang kau sembunyikan dariku? Kamu sudah tau banyak tentang aku tapi kamu tetap menjadi misteri bagiku!. Kenapa wanita tadi memanggilmu dengan sebutan Lastri, Apa ini semua kebetulan?”
“Kalau ternyata Lastri itu aku. Gimana?”
“Saya memang membenci perempuan yang bernama Lastri, tapi kalau kamu perempuan yang bernama Lastri itu. Saya sungguh tidak berdaya”
“Kalau aku Lastri apa kamu mau memaafkanku?”
“Pasti, pasti saya akan memaafkanmu” ucap Rama
Pada Malam hari saat Lastri pulang ke rumah Pak Suryo ia di kagetkan dengan begitu banyak bingkisan yang berupa peralatan bayi dan tambah terkejut lagi yang mengirim semua itu adalah Angga mantan pacar lastri yang ternyata ia terus mencari tau keberadaan lastri dan juga mengetahui lastri berpura-pura sebagai Maya. Dengan kelicikan angga mengancam Lastri akan membongkar semua rahasianya jika ia tidak memberikan sebagian harta yang di miliki Almarhum Aryo anak dari Pak Suryo itu. Keesokan hari lastri datang menemui Angga yang sudah dari tadi menunggunya di Restoran, Perdebatan pun terjadi lagi Angga tetap mengiginkan harta yang akan lastri dapatkan dari keluarga Pak Suryo itu karena Angga mengetahui Pak Suryo adalah orang yang sangat Kaya di wilayah itu. mendengar omongan Angga yang sangat tidak di sukai lastri.  Lastri pun pergi meninggalkan tempat itu. Di dalam kamar lastri melamun ia teringat ucapan Angga, jika ia tidak menurutinya maka rahasia itu bisa saja di bongkar oleh Angga.
Terdengar suara ketukan pintu dari luar.
Tuk.tuk..tuk..
“Maya Bapak panggil kamu ke ruang tamu”
Kemudian Maya pun segera ke sana.
“Bapak panggil saya?”
“Iya Maya, ini ada surat Asuransi suamimu  yang bernilai 1.5 M, uang ini bisa keluar kalau kamu sudah menandatanganinya”
“eehmm.. Pak, Saya yang harus tanda tangan?”
“Iya, Kamu Istrinya hanya kamu yang berhak mendatangani itu”
“hmm.. Tapi maaf pak”.
“Agh… Uang itu menjadi hakmu Maya, sebaiknya kamu cepat tandatangani supaya besok biar di bawa ke Rama. Sebab Rama yang akan mengurusnya”
Dengan kebingungan Lastri mondar-mandir di dalam kamar, ia ingin memalsukan tanda tanggan Maya tapi ia takut sebab resikonya adalah penjara lalu ia berfikir mungkin ini adalah waktu yang tepat untuk berterus terang kepada Rama. Lalu Lastri mengambil sebuah kertas dan menuliskan surat untuk Rama.
Pagi hari ketika surat Asuransi itu mau di antarkan ke Rama oleh bang Tarjo adalah pembantu di rumah Pak Suryo, lalu langkah kakinya di berhentikan oleh Pak Suryo dan menuju ke arahnya untuk mengecek kembali surat itu. Ketika Map Asuransi di buka, surat lastri yang akan di berikan untuk Rama pun jatuh. Tanpa sengaja pun pak suryo membuka surat lastri dan membacanya.
            Rama, maafkan aku. Sepertinya aku tidak mungkin menghindari lagi
            Aku tidak akan selamanya menjadi misteri
            Sungguh tidak adil buatmu jika aku tidak mengatakan siapa aku sebenarnya
            Inilah saatnya Rama, kau ketahui siapa aku.
            Aku katakan yang sebenar-benarnya, aku memang bukan Maya. Bukan maya.
            Akulah Lastri, lastri yang menghancurkan hidupmu.
            Sekali lagi maafkan aku Rama
            Aku memang sangat berdosa padamu.
Ketika membaca surat itu, Pak Suryo dengan sangat marah, sedih, kecewa. Bahwa selama ini ia sudah di bohongi oleh lastri yang berpura-pura sebagai Maya.
Pada Malam hari, suasana yang begitu hening di dalam rumah itu. Lastri menuju kamar pak Suryo.
“Maaf pak, makan malamnya sudah siap” ucap Lastri
“tidak usah! Saya tidak berselera untuk makan”
“untuk itu saya minta maaf kalau masakkan saya tidak enak, kalau gitu saya pesan di luar saja ya”
“Tidak perlu! “saya paling benci dalam hidup ini adalah kemunafikkan, kebohongan dan itu tidak akan pernah bisa aku maafkan”
“Apa yang kamu sembunyikan sesungguhnya? Siapa kamu sebenarnya?!.”
|”Apa ini?” menunjukkan surat lastri “Hari ini sandiwaramu sudah berakhir, kebohonganmu sudah terbongkar. Sebenarnya kami sangat menyayangimu, mencintaimu, semua sudah kami percayakan sama kamu Lastri. Uang kami, harta kami, bahkan namamu sudah ku tuliskan dalam surat wasiatku sebagai pewarisku. Dan ternyata kamu seorang pembohong dan penipu”
“Maaf pak, maaf” Ucap lastri
“Owek..Owek..Owek”
Suara tangis Bayu terdengar, kemudian lastri menuju ke ke arah ranjang tempat tidur Bayu lalu mengendongnya dan memberikan ia susu. Kemudian lastri memasukkan semua pakaiannya di dalam koper dan ingin meninggalkan rumah Pak Suryo. Akan tetapi langkah Lastri terhenti karena ia mendengar suara Pak Suryo.
“Sudah ku duga kamu akan pergi diam-diam”
Lastri menuju ke arah pak Suryo dan membuka isi kopernya sambil mengatakan bahwa ia tidak membawa apapun dari rumah itu.
“tapi saya tidak membawa apa-apa pak, silakan bapak periksa sendiri”
“Lalu kenangan apa yang akan kamu bawa jika Rama menanyakanmu, jika cucuku menangis, jika istriku mencarimu dan jika warga bertanya kemana manantuku. Apa. apa yang harus ku jawab Lastri?’’
“Bapak bisa jawab kepada mereka bahwa menantu bapak yang asli sudah meninggal dan menantu bapak yang palsu sudah kabur dari rumah, sandiwara ini sudah berakhir pak”
“Sandiwara sudah berakhir tapi kehidupan yang sebenarnya tidak”
“Kehidupan yang mana pak, seperti apa?”
“Jangan biarkan lastri hidup kembali, kamu adalah Maya menantuku”
Kemudian Lastri bersujud di bawa kaki pak Suryo dan meminta maaf, ia berkata tidak akan meninggalkan rumah itu dan tetap akan menjadi Maya. Hanya untuk Bayu, Ibu dan Pak Suryo serta untuk semuanya.
Lalu Rama dan Lastri pun hidup Bahagia.


Pertemuan Singkat



           Cuaca pada siang hari sekitar pukul 10.45 begitu menyengat  kulitku yang sedang berdiri di depan pagar rumah karena menunggu Sahabat-sahabat ku yang akan datang membawa perlengkapan untuk mendaki ke Ranu Kumbolo, Gunung Semeru, yang terletak di Lumajang daerah Jawa Timur. Kebetulan sebagian dari mereka ada yang belum mengetahui tempat tinggalku di Malang  sehingga aku yang harus menunggu mereka di depan rumah.
“Agkkhh! Mereka kok lama banget sih, udah pegel berdiri nih. Duh.. duhh” Ucap Mitha dalam hati.
Terlihat dari kejauhan ada kedua pemuda yang sedang mengendarai sepeda motor yang memasuki gang kecil menuju ke arahku dan ternyata itu adalah kedua sahabat ku.
“Ehh, kok kalian lama banget sih” ucap ku
“Iya nih, kan perlengkapan yang nanti kita bawa itu banyak banget, udah gak usah bawel, ini barang-barangnya di jaga dulu yah karena kita akan balik lagi buat mengambil barang yang masih tersisa di tempat yoyok” kata Satrio
“Oke deh, jangan lama-lama yah buruan”
Sambil menunggu mereka di depan teras rumah, sekitar 11.30, aku melihat langit tibat-tiba gelap dan sepertinya akan turun hujan yang sangat deras sembari suara petir seperti menyambar sesuatu yang membuat telingaku tiba-tiba berdengung, aku begitu takut. Namun tak lama kemudian akhirnya mereka semua datang satu-persatu. kebetulan jumlah kami ada 12 orang, 3 perempuan dan 9 laki-laki. Ada Satrio, Yoyok, Bayu, Abi, Agung, Eko, Nina, Nila, Aji, Titan, Alvis dan Mitha. Lalu kami semua sibuk memasukkan perlengkapan mendaki ke dalam tas Carrier kami seperti sleeping bag, hand lamp, makanan ringan, Jas hujan dan yang terpenting yaitu  obat-obat pribadi kami karena itu semua adalah perlengkapan individu yang tidak boleh terlupakan.
“Udah beres semua yah teman-teman, apa masih ada yang ketinggalan?” kata yoyok
“Iya sudah semua nih” ucap Abi
Dengan kesibukan masing-masing namun dengan perasaan yang bertanya-tanya karena  ada 3 orang yang tidak aku kenal bernama Alvis, Aji dan Titan karena mereka bertiga adalah teman dari salah satu Sahabatku Abi, Kebetulan mereka adalah teman Abi di Kota Lamongan yang ikut serta mendaki ke Ranu Kumbolo.
“Hay, aku Alvis” Sambil menyodorkan tangannya dengan wajah yang sangat ramah.
“Oh, eehmm, iya aku Mitha” Ucapku dengan nada Gugup sambil tersenyum tipis dan  wajahnya berubah menjadi merah muda.
“Wah, aku kenapa yah kok tiba-tiba jantungku berdetak sangat cepat seperti sedang memutari lapangan bola basket selama 5 kali. Uuh sungguh apakah ini. Aah” ucapku dalam hati.
“Ayo-ayo sudah siap semua yah, sebelum kita menuju perjalanan ke Ranupane ayo teman-teman semua mari kita berdoa terlebih dahulu, menurut kepercayaan dan keyakinan masing-masing” kata Abi
Setelah semuanya sudah siap kami semua menuju perjalanan dari Malang ke Desa Ranupane yang terletak di daerah Lumajang untuk sampai ketempat iru kami semua membutuhkan waktu  kalau tidak macet sekitar 3 jam dari Malang. Kami semua menggunakan sepeda motor. aku dan Alvis berboncengan dengan menggunakan sepeda motor milikku, betapa bahagia hatiku, mengobrol dan bercanda dalam perjalanan. Namun di tengah perjalanan hujan pun turun begitu deras sehingga kami berdua berhenti di pinggir jalan dan memakai jas hujan. Kemudian melanjutkan perjalanan kembali. Dalam perjalanan kami semua melewati jalan yang berliku-liku, pohon-pohon yang sangat tinggi menjulang ke atas dan hawanya sangat dingin menusuk ubun-ubun di kepala membuat aku setiap saat merinding di sertai juga dengan kabut yang menutupi seluruh hutan. Di tengah perjalanan aku menggigil karena hawa di sekitar hutan begitu dingin, padahal aku sudah menggunakan jaket yang  begitu tebal tapi tetap masih saja rasa dingin masih terasa di tubuhku.  
“Peluk aku..” ucap Alvis
“ehm, emang gak apa-apa yah? Kita kan baru kenal” kataku sambil tersenyum malu karena bingung.

“Aku dingin…”
Dalam perjalanan aku tidak langsung memeluknya, aku hanya menaruh kedua tanganku di pinggangnya.
“Hmm, gini aja yah Alvis. Gak apa-apa kan” ucapku
Namun tak ada Respon dari Alvis, dia hanya diam. Entah dia marah aku tak tau karena pada saat itu kami sedang berboncengan.
Setelah sampai di tempat yang di tuju Ranupane kami semua beristirahat di Aula, menjelang malam pun tiba  yoyok dan Agung mempersiapkan makanan buat kami semua. mengapa cowok yang masak karena  itu semua sudah menjadi kodrat para cowok ketika sedang camping. Setelah itu kami semua langsung beristrihat dan mempersiapkan fisik yang cukup kuat karena besok kami semua akan mendaki ke Ranu Kumbolo
           Terdengar suara yang gemuruh, membangungakan tidurku yang sangat pulas, ternyata itu suara Abi yang sedang membangunkan teman-teman.
“ehh,eeh.. bangun-bangun dan siap-siap” kata Abi yang sedang membangunkanku
“Huaaam, iya-iyaa! Ini aku bangun kok” Sambil mengusap-usap kedua mata, aku pun berdiri  beranjak dari tempat yang ia tiduri menuju ke kamar mandi yang telah tersedia di sekitar Aula Ranupane.
Suasana di pagi hari begitu dingin dengan cuaca sangat cerah, terlihat burung-burung kecil yang sedang berterbangan di sekitar Aula, burung-burung pun seperti ikut bernyanyi menyambut kedatangan pagi yang cerah membuat pemandangan Alam di sekitar Ranupane begitu Indah. Setelah menunggu begitu lama kemudian kami semua di panggil untuk brifing terlebih dahulu sebelum melanjutkan perjalan ke Ranu Kumbolo. Sekitar pukul 12.30 kami semua berjalan dan di perkirakan kami akan menempuh perjalanan sekitar 4-5 jam untuk sampai ke Ranu Kumbolo. Dalam perjaalanan Alvis selalu berjalan di belakangku dengan penuh perhatian memberikan ku arah yang tak boleh ku lewati dan di tengah perjalanan hujan mulai turun sangat deras, kami semua langsung memakai mantel kami masing-masing pada saat itu aku terpleset.
“Aaahh…” aku berteriak karena terpleset, untung saja Alvis cepat memegang tangan kiriku.
“Kan aku sudah bilang kamu hati-hati Mitha”
“Iya Alvis, aku akan lebih berhati-hati lagi”
“Aku capek nih Alvis” sambil mengatur nafas yang sudah dari tadi ngos-ngosan
“yaudah kita istirahat di sini saja dulu biar yang lain jalan duluan”
15 menit kemudian
“Gimana, Masih kuat gak?..” tanya Alvis
“Iya masih kok,” Ucapku
 Terlihat dari jauh pemandangan sekitar Ranu Kumbolo sudah kelihatan sangat jelas yang begitu Indah, walaupun di sertai rintik-rintik hujan yang turun. Setelah sampai aku, Nila dan Nina berteduh di rumah warga yang tinggal di sekitaran Ranu Kumbolo dan para cowok-cowok sibuk memasang tenda. Malam pun tiba kami tenda kami sudah jadi. Yoyok dan Agung memasak buat makan malam kami semua kecuali ke tiga teman Abi Alvis,Aji dan Titan tidak ikut serta dalam makan malam kami karena mereka memasang tenda yang tempatnya lumayan jauh dari tenda kami. Di tenda pertama ada aku, Satrio, Agung dan Bayu. Karena aku tidak enak badan karena kedinginan para cowok-cowok  menjaga ku sampai aku tidur, di tenda kedua ada Yoyok yang menjaga Nila dan Nina dan di tenda terakhir ada Abi dan Eko. Lagi-lagi Hawa yang begitu dingin membuat kakiku seperti membeku, tengah malam aku terbangun karena ingin buang air kecil, aku menyuruh Agung untuk mengantarku. Setelah sampai di luar dengan suasana yang begitu gelap gulita tiba-tiba saja aku tidak ingin buang air kecil. Lalu kami pun kembali masuk ke tenda dan Agung melanjutkan tidurnya kembali.  Aku mengambil jaket dan memakainya serta menutupi seluruh badanku dengan Sleeping bag agar hawa dingin tidak begitu aku rasakan.
           Keesokan harinya dengan cuaca yang sangat cerah aku terbangun dan keluar dari tenda lalu Yoyok mengasih aku teh hangat. Langsung saja aku meminumnya. Betapa nikmatnya meminum teh di Alam terbuka sambil melihat pemandangan di sekitar begitu banyak tenda-tenda milik pendaki lain serta pemandangan Danau yang berada di Ranu Kumbolo airnya yang begitu jernih dan dapat di minum secara langsung. Karena Danau itu tidak di perbolehkan untuk  di buat mandi oleh siapa pun. Tampak dari kejauhan Alvis berjalan menuju ke tenda kami ia membawa makanan sebuah Nugget yang telah di goreng, setelah itu ia mengajakku ke tempat tendanya, kemudian aku langsung saja ikut.
“Aku mau kembali nih, kamu mau ikut gak?” ajaknya
“Hmm, hehehee.. iya deh ayoo” jawabku sambil tertawa kecil
Lalu aku dan Alvis berjalan menuju ke tempat ia mendirikan tenda bersama kedua temannya.lalu Kami pun ngobrol dan bercanda tawa. Kemudian aku pamit dan kembali ke tempat tenda teman-temanku.Serelah itu kami semua pun makan masakan yang telah di masak oleh Yoyok, sekitar 7 kertas minyak di gelar di atas matras kemudian nasi di tuangkan lalu lauknya mie dan sosil yang telah di goreng. Kami semua makan Bersama-sama. Betapa nikmat yang aku rasakan Bersama teman-teman.
Sekitar jam 10.30 teman-teman  yang akan berangkat mendaki untuk mencapai puncak Gunung Semeru bersiap-siap kembali di tenda yang tersisa hanya aku, Satrio dan Bayu sebab pada saat itu lagi tidak enak badan dan mereka berdua menemaniku di Ranu Kumbolo saja. Alvis dan kedua temannya pun juga ikut.
“Kamu gak apa-apa kan di sini?” tanya Alvis
“Iya aku gak apa-apa kok, sebenarnya aku pengen ikut juga tapi yah kondisinya lagi kayak gini, tap gak apa-apa kok kamu pergi aja.” jawabku
“Yaudah, kamu hati-hati yah, lagian di sini ada Satrio dan Bayu, kamu jangan melamun”
“iya-iya tapi, nanti aku bakalan kangen sama kamu dong?”
“Aku kan gak lama besok kita akan ketemu lagi, dan aku bakalan temenin kamu kok, tenang aja yah” sambil tersenyum
“Iya deh, kamu janji yah” ucapku
Setelah kepergian mereka semua, kami bertiga pun memberes-bereskan tenda serta barang-barang yang juga di bantu oleh pendaki lain aku tidak sempat berkenalan jadi aku tidak tahu namanya karena ia adalah teman Abi, namun sering di panggil Ambon tapi itu bukan nama Asli hanya sebuah panggilan-panggilan yang di berikan oleh teman-temanya. lemudian kami bertiga pindah tempat bersama si Ambon kebetulan Abi mengenal mereka jadi ia menitipkan aku agar bisa di jaga juga oleh mereka. Sesudah beres-beres tenda pun sudah berada dekat tenda Ambon dan ke enam temannya yang lain. Setelah itu aku pun beristirahat dan di buatkan chocolatos oleh Bayu. Aku meminumnya setelah itu aku tidur. Kemudian di malam hari sambil menunggu teman-teman kembali ke Ranu Kumbolo. Aku, Satrio, Bayu dan Ambon, bercerita di dalam tenda tempat tidur kami. kami bercanda dan tertawa Bersama-sama.
Malam semakin larut,  rasa ngantuk pun menyelimuti ku, kemudian aku pun tertidur di dalam tenda  Satrio dan Bayu di luar menjagaku. Baru saja aku ingin larut dalam tidur ku terdengar suara Satrio berteriak sangat kencang memangil-manggil nama Yoyok serentak aku pun langsung terbangun dan terduduk kemudian keluar dari tenda dan bertanya apa yang terjadi lalu Bayu menjawab bahwa teman-teman sudah sampai di Ranu Kumbolo. Aku pun langsung segera menemui Alvis tapi dia sibuk membantu kedua temannya  memasang tenda aku hanya melihat lihatnya sebentar kemudian aku pergi ke tenda di mana ada Nila, dan Nina. Pada saat itu mereka pun bercerita tentang pengalaman mereka yang sudah mendaki ke puncak Gunung Semeru yang tertinggi di pulau Jawa. Yoyok yang lagi masak tiba-tiba melihatku yang dari tadi hanya diam.
“vis.. Alvis, kesini dulu” Yoyok berteriak memanggil Alvis yang sedang berada di tendanya.
“Iya, kenapa?”
“Sini-sini kamu masuk dan duduk di dekat Mitha”
Kemudian Alvis duduk tepat di belakangku, Aku yang tadinya diam menjadi senyum-senyum sendiri karena telah bertemu dengan Alvis. Lalu di dalam tenda kami pun mulai mengobrol lagi. Aku mengambil Handphone kemudian menulis di Note.
Kita keluar dari tenda sebentar yuk, aku pengen ngomong.
“Ayo, kamu keluar duluan” ucap Alvis
“Kamu mau ke mana?” tanya Yoyok
“Gak kok, aku pengen keluar sebentar aja” Jawabku
Aku dan Alvis sudah berada di luar tenda, Hawa dingin yang menyelimuti tubuh kami membuat kami menjadi bergetar karna menggigil kedinginan.
“Aku kedinginan banget” kata Alvis
“Hmm, kamu dingin yah, trus gimana dong. Apa kita masuk lagi ke tenda?” tanyaku
“Gak di sini aja, tolong peluk aku”
Aku pun lansung terdiam dan tak bersuara lagi. Tiba-tiba Alvis menarik tanganku kemudian memelukku. Aku hanya bisa tersenyum dalam hati karena aku benar-benar nyaman pada saat ia di sampingku.
“Tenda itu ada yang tempati gak?” ucap Alvis sambil menunjuk ke arah tenda
Tangan Alvis menunjuk ke arah tenda kosong yang hanya di huni oleh tas-tas punya teman-teman yang lainnya.
“Ayo kita ke sana…” Ajaknya
“tapi!”
“Udah gak apa-apa yuk”
Alvis menggandeng lenganku dan kemudian membawa aku ke tenda yang kosong itu, kami berdua masuk dan duduk di dalam tenda.
“Gak apa-apa nih di sini?” Ucap ku dengan suara yang pelan
“Iya gak apa-apa, jangan berisik nanti di dengar teman-teman yang lain” kata Alvis
“Hmm, iya-iya”
Kemudian aku dan Alvis terdiam sebentar, tiba-tiba Alvis langsung memelukku dari belakang dan mencium bibirku. Aku pun tidak bisa menolak apa yang Alvis lakukan karena aku larut dalam suasana itu. Aku dan Alvis berciuman dengan durasi yang hanya sebentar, karena pada saat itu aku lansung cepat menghindar tapi ia terus menarik tanganku dan ia merasa kalau aku tidak mengiginkannya lagi, kami duduk berhadapan dan ia hanya memelukku begitu erat.
“Kamu sudah makan?” tanya Alvis
“Belum”
“Aku juga belum, ayo makan yuk”
Terdengar suara dari luar tenda
“Alvis.. vis.. Alvis, ayo makan ini” Kata Titan dengan suara yang keras
Kemudian Alvis pun keluar dari tenda dan meninggalkan aku di dalam.
“Kamu tunggu di sini sebentar ya, aku ke sana dulu” kata Alvis
“Iya, tapi jangan lama yah” ucapku
“Ayo kita kesana” ajak Alvis
“Hmm…” Aku hanya mengangguk dan tersenyum tipis.
Aku dan Alvis kembali ke tenda yang di mana ada Yoyok, Nila dan Nina.
“Kamu dari mana?” tanya  Yoyok
“Gak kok, dari depan aja” ucapku
“Iya udah, duduk di situ dan ayo makan dulu” ajak Yoyok
“Vis, suapin Mitha tuh” kata Yoyok
Kemudian Alvis pun menyuapi aku berkali-kali sampai aku merasa udah kekenyangan. Setelah itu kami kembali ngobrol lagi. Alvis yang dari tadi kembali  ngobrol sama Nila dan juga Nina. Aku pun hanya terdiam dan begitu heran sama diriku  sendiri padahal aku baru beberapa hari kenal sama Alvis tapi sudah merasa nyaman saat bersama ia. Aku suka ketika Alvis tersenyum kepadaku dan membuat ku seperti melayang-layang di atas awan. Semua ucapannya yang terdengar di telingaku membuatm aku selalu ingin tersenyum ketika ia sedang berbicara bersama ku atau bersama teman-teman yang lain.
“Aku ngantuk nih” ucap Alvis
“Yudah kamu balik ke tendamu deh kalo ngantuk” kataku sambil mendorong bahunya karena aku duduk tepat di belakangnya
“Yaudah, aku balik yah, Kamu juga langsung tidur!”
“iya, daaahhhh…’ jawabku
Pada Pagi hari, setelah bangun kami semua beres-beres mengemasi barang-barang, ada yang sibuk memasak dan ada juga yang sibuk melipat-lipat tenda. Ketika Yoyok dan teman-teman yang lainnya selesai memasak. Kami bersiap-siap, mengatur kembali sisa-sisa barang yang akan di bawa, tanpa terkeculi yaitu sampah yang memang harus di bawa kembali ke Ranupane, sebab sudah ada larangan dari warga desa tersebut bahwa sampah-sampah organic tidak di perbolehkan di buang sembarangan apalagi di dalam hutan karena akan mencemarkan ekosistem dan kami semua menghargai itu dan menyayangi tempat yang sangat indah. Setelah itu kami semua berjalan untuk kembali ke tempat awal yaitu Desa Ranupane. Di dalam perjalanan lagi-lagi aku hanya berjalan bersama Alvis karena sebagian teman-teman yang lain sudah duluan. Di tengah perjalanan aku dan Alvis berfoto-foto secara bergantian. Kemudian melanjutkan perjalan dan bertemu Bayu dan Agung. Lalu kami melanjutkan perjalana Bersama-sama dan juga beristirahat.
Menempuh perjalanan sekitar 4 jam saja, karena perjalanan untuk kembali ke Ranupane itu kebanyankan jalanannya menurun jadi aku tidak terlalu Lelah dalam perjalanan, tidak seperti pada saat perjalanan ke Ranu kumbolo. Syukur hari ini cuaca sangat cerah. Akhirnya kami sampai juga di Aula.
“Aku laper nih, makan bakso yuk?” ajak Alvis
“Yah, kan baru nyampek. Istirahat dulu bentar” jawabku
20 menit kemudian
“Ayo deh pesen” ajakku
Berdiri menuju kea rah tukang bakso dan kemudian memesan dua Bakso. Setelah selesai makan kami semua pun bersiap-siap untuk kembali ke Malang dan pulang menuju rumah kembali. Alvis adalah teman Abi jadi aku mengatar ia ke rumah Abi.
Dalam perjalanan..
“Kapan kita akan bertermu kembali” tanyaku
“Yah, kapan aja kalau ada libur..lagian loh deket, Surabaya-Malangkan Cuma 3 jam saja dan juga aku udah follow Instagram kamu” Kata Alvis
 Aku hanya mengangguk dan membulatkan mulutku membentuk huruf O
Aku dan Alvis tiba di rumah Abi..
“Makasih yah, sudah mengantarkan aku ke rumah Abi” ucap Alvis
“Iya sama-sama, aku pulang dulu sampai ketemu di lain waktu” ucapku
“Iya, kamu hati-hati di jalan yah” kata Alvis

Setelah aku beranjak pergi dari hadapannya. Aku pun pulang dengan raut muka yang sangat sedih dan bertanya-tanya dalam hati kapan aku akan bertemu ia kembali, walaupun ini hanya sebatas pertemuan singkat. Aku barharap akan ada pertemuan-pertemuan selanjutnya.